Now Loading

Bab 2

"Sampe juga kita disini ya!"


Firman memarkirkan mobilnya tepat di dekat pintu. Mereka jadi tak perlu jalan jauh untuk masuk ke dalam kantor. Tapi sampai di bagian penerima tamu malah justru bingung semua. Bahkan saling sikut satu sama lainnya.


"Adik-adiknya ini mau ketemu siapa ya?"
"Ee, anu mbak aduh siapa ya! Bowo, kita ini mau ketemu siapa sih!"
"Kok tanya aku sih! Coba tanya ke Pak Kades, Yok. Kan beliaunya yang punya kepentingan."


Pak Yanto sendiri hanya diam saja. Ia seperti guru yang sedang mengantarkan murid-muridnya kunjungan kemari. Tapi akhirnya Kepala Desa itu bicara juga. Bertanya kemana sebaiknya mereka melapor tentang masalah jalan desa.
Semula bagian penerima tamu itu cukup bingung. Tapi akhirnya ia arahkan ke Pak Winarno yang memang sering menangani jalanan ke desa. Mereka diarahkan kemana harus jalan menuju ke tempat Pak Winarno. 


TOK! TOK! TOK!


"Ya, silahkan masuk!"
"Permisi, Pak Winarno! Ini ada tamu dari Kepala Desa Langgar Jati."
"Oh, ya silahkan masuk pak. Lalu adik-adiknya ini siapa ya?"
"Kami pemuda Karang Taruna Desa Langgar Jati, pak. Tugas kami mendampingi Pak Yanto selaku Kepala Desa."
"Bukan Pak Cariknya ya?"
"Anu, Pak Carik lagi sakit. Makanya kami yang gantikan tugas dampingi Pak Kades kemari."


Paham akhirnya Winarno dengan kondisi yang ada. Dia tetap menyambut dengan baik. Para remaja Karang Taruna juga diminta untuk ikut duduk. Baru Pak Yanto membuka mulutnya untuk bersuara. 


"Saya selaku Kepala Desa Langgar Jati mau melaporkan masalah jalan penghubung desa kami menuju ke kota."


Pak Winarno nampak sedikit terkejut. Paham jika ini sudah bukan ranahnya dia lagi. Namun karena yang dihadapi adalah orang tua seperti Pak Yanto. Tetap didengarkan dulu sampai beliau selesai bicara.


"Ya, saya paham Pak Yanto. Tapi mohon maaf sekali. Kalau ini sebenarnya sudah bukan kewenangan saya lagi."


Mendengar hal itu, Bowo jadi emosi. Dia sudah menduga hal ini akan terjadi. Berpikir kalau orang-orang didalam dinas apapun itu pasti ujung-ujungnya duit. Apalagi melihat penampilan mereka yang nampak sekali orang dari desa. Remaja laki-laki itu langsung berdiri dari tempatnya duduk dan mulai nada bicaranya sedikit meninggi.


"Pak, kami ini sudah datang jauh dari desa. Kenapa jawaban Bapak selaku pejabat di dinas ini seperti itu?"
"Bowo, sabar dulu dong! Kan bapaknya ngomongnya belum selesai."
"Pasti nih bapaknya mau duit dulu dari kita, Yok. Maaf ya, Pak! Kita cuma punya biji kopi. Tuh, di rumah saya ada banyak! Bapak mau berapa karung?"
"Bowoooo!"


Sinta sudah kesal dengan kelakuan remaja laki-laki satu ini. Firman yang diam saja akhirnya ikut menenangkan Bowo yang sudah terlanjur emosi. Dibantu sama Yoyok memegang lengan teman mereka. Kalau tidak begitu, Bowo sudah mau menggebrak meja. 


"Bowo, sabar dulu ya. Kita dengarkan dulu apa kata Pak Winarno. Siapa tahu beliau mau beri kita solusinya."


Baru Bowo bisa tenang setelah Pak Kades yang bicara. Padahal dadanya sudah naik turun akibat emosi tadi. Rupanya masih ada kelanjutan dari kata-kata Pak Winarno. Bahwa ia memang bukan yang berwenang secara langsung. Tetapi ada bagian lain yang menjadi pelaksana dalam proyek pembuatan setiap jalan desa.


"Begini ya, biar saya jelaskan dulu. Jalan desa itu betul dibawah naungan Dinas Pekerjaan Umum. Tapi kami ada beberapa perusahaan yang menangani langsung pembuatan jalan itu."


"Ooh, jadi tidak dilakukan sama Dinas Pekerjaan Umum ini langsung ya pak?"
"Bukan, dik! Makanya saya perlu tahu dulu dengan buka berkas tentang proyek pembuatan jalan tersebut. Serta melihat langsung ke lokasi seperti apa permasalahannya."


Tapi rupanya syarat lainnya pun mengikuti di belakang. Seperti berkas laporan dari pihak kepolisian hingga data-data dari rumah sakit. Fungsinya untuk mencocokkan semuanya bahwa memang benar pernah terjadi kecelakaan di jalan raya menuju ke desa Langgar Jati. Mendengar itu semua, Bowo pun berbisik pada Sinta di sebelahnya.


"Sin, kok kayaknya ini ribet ya!"
"Udah dengerin aja dulu penjelasan Pak Winarno! Nanti kita kalau ditanya sama Pak Carik juga biar ngerti dan bisa jelasin.”
“Ya biar aja Pak Kades yang ngomong, Sin!”
“Kita kan ikut mendampingi, Wo! Mestinya kita butuh paham sama hal beginian.”


Para anggota Karang Taruna itu terus memperhatikan obrolan ini. Sesekali Pak Yanto juga menimpali. Hingga semuanya jadi jelas lalu mereka berpamitan pulang.
***


"Saya sudah paham sama penjelasan Pak Winarno selaku kepala bagian proyek jalan desa."


Begitulah kata-kata Pak Yanto saat mereka perjalanan pulang menuju ke desa. Nampak di wajahnya sudah lebih lega dari sebelum berangkat kesana. Sekalipun nantinya ia dan Pak Darto selaku Carik harus pergi ke kantor polisi guna mencari laporan kecelakaan. Serta ke rumah sakit mencari data para korbannya.


"Nah, kan kalau dengerin dulu bakalan tahu seutuhnya. Bowo sih marah duluan yang dikeluarin!"
"Sin, kamu tahu sendiri lah pejabat kayak apa? Kalau kita lembek nanti dimainkan sama mereka."
"Wo, pejabat sekarang tuh beda tau! Nggak kayak jaman dulu yang main duitnya dulu baru mau jalan. Udah banyak pengawasnya apalagi ada KPK."
"Iya, betul tuh apa kata Yoyok!"


Masih mereka bertiga yang asik membahas soal pertemuan mereka dengan Pak Winarno. Hanya Firman saja yang diam. Dia fokus menyetir mobil ini. Apalagi hari sudah mulai gelap saja.


"Pas bener Maghrib kita lewati jalan yang bermasalah ini ya!"


Sinta agaknya khawatir bila berpergian melewati Maghrib. Dia menahan rasa takutnya dengan berkata begitu. Sementara Bowo yang duduk didekat Firman melihat sesuatu dari kejauhan.


"Onta, keknya ada orang tuh di depan!"
"Aku udah pelan ini nyetirnya, Wo. Nanti kalau terlalu pelan mesinnya mati."
"Ya bukan gitu, Onta! Ati-ati aja jangan sampe nabrak dia."


Bowo perhatikan betul apa yang ada didepan. Sekilas ada sosok orang tengah menyebrang di jalan. Tapi yang buatnya aneh adalah langkah orang itu lambat sekali.


"Onta, coba deh kamu klakson!"
"Nanti orangnya kaget, Wo!"
"Ya abis dia lambat banget mau nyebrang jalan. Udah pencet aja!"


TIIIIN!


Firman yang ada di kursi supir saja sampai kaget dengan kelakuan si Bowo. Dia tak mengira temannya akan memencet sendiri tombol klakson di mobil ini. Pak Yanto yang sudah sempat tertidur jadi kaget. 


“Eh, ada apa ini?”
"Wo, kelakuanmu tuh ya bikin Pak Kades kebangun!"
"Ma-maaf, Pak Kades! Habisnya saya kesel Firman disuruh tekan klakson nggak mau terus."
“Bukannya nggak mau, Bowo. Nanti Pak Kades jadi kaget. Tuh, kamu lihat sendiri beliau sampai tersentak begitu!”
"Eh, kok orang tadi berhenti ya? Firman, pelan-pelan dong!"


Firman padahal sudah pelan sekali. Semua yang ada disini memang melihat sosok perempuan yang tengah menyebrang. Ketika Firman sendiri yang menekan tombol klaksonnya. Barulah semua melihatnya. Sebab sosok ini menengok ke arah mereka.


"ASTAGHFIRULLAH...!"


Bukan satu atau dua orang lagi. Tapi semua yang baik mobil itu. Pak Yanto sampai memegang dadanya. Kades itu terkejut bukan main. Baru kali ini melihat sosok dengan muka rata secara jelas.


"Aduh, Pak Kades nggak apa-apa kan?"
"Saya cuma terkejut saja, Sinta!"
"Onta, gas tabrak aja tuh cewek!"


Kaki Firman sudah reflek menginjak pedal gasnya. Sampai sedikit terlonjak. Meski akhirnya laki-laki berwajah layaknya orang Arab itu berhasil menguasai setir. Serta permainan pedal rem dan kopling. Hingga mereka semua berteriak histeris. Hanya suara Pak Kades yang tenggelam disini oleh para remaja.


“Ontaaaaa! Kamu mau bunuh kita semua?”

“Maaf, Yok! Aku reflek nih injek gasnya tadi.”
"Eh, udah lewat belum? Ya Allah, mbaknya punya muka mulus bener ngalahin jalanan aja!”
“Udah, Sin! Kamu enak sih di tengah sama Pak Kades juga Yoyok. Aku yang didepan sama Firman nih! Berasa lihat setan di film horror dari jarak dekat.”
“Tapi ini beneran, Wo!”
“Ya cuma aku takutnya beneran juga, Yok!”


Ternyata Bowo sudah kencing di celana. Sebab begitu takutnya dia lihat penampakan perempuan bermuka rata tadi. Tapi dia tidak mau mengakui. Daripada nanti teman-teman Karang Taruna lainnya menertawakan dirinya. 


"Tembus ya tuh cewek ditabrak?"
"Kamu kira itu togel, Wo! Pake acara tembus segala."
***